Banjarnegara Punya Proyek Pertanian Canggih! Lahan Tidur 12 Tahun Disulap, Potensi Pendapatan Tembus Rp1,95 Miliar
- Pemkab Banjarnegara
Banjarnegara, VIVA Banyumas – Program Revola Jateng Optimis di Banjarnegara mengubah lahan tidur menjadi kawasan Integrated Smart Farming berbasis Smart Farming untuk mendukung pengentasan kemiskinan ekstrem.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meluncurkan program Revolusi Lahan Jawa Tengah melalui Optimalisasi Lahan Integrated Smart Farming (Revola Jateng Optimis) di Kabupaten Banjarnegara.
Program ini dirancang untuk menghidupkan kembali lahan yang selama bertahun-tahun tidak produktif sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Peluncuran program dilakukan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Banjarnegara Amalia Desiana di halaman Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Ma’arif Legoklangkir, Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Senin, 10 Agustus 2026.
Dalam program tersebut, lahan pertanian tidak hanya dimanfaatkan untuk satu jenis komoditas. Tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan dikembangkan dalam satu kawasan dengan dukungan teknologi pertanian modern.
Ahmad Luthfi mengatakan, perubahan cara pandang menjadi salah satu kunci agar lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
“Revolusi lahan ini bagaimana membuat lahan tidur kembali bangun. Di dalamnya ada kopi, cabai, padi, perikanan, sampai peternakan yang saling terhubung sehingga petani bisa terus produktif,” kata Ahmad Luthfi.
Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut juga diarahkan untuk membantu mengurangi kemiskinan ekstrem. Pemerintah tidak bekerja sendiri, tetapi melibatkan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, perbankan, sektor swasta, hingga petani milenial dari sekolah kejuruan.
Lokasi pilot project di Desa Susukan dipilih karena memiliki lahan yang cukup potensial untuk dikembangkan. Kawasan seluas 10 hektare itu sebelumnya terbengkalai dan tidak dimanfaatkan secara optimal selama lebih dari 12 tahun.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defrancisco Dasilva Tavares menjelaskan, pengembangan lahan dilakukan menggunakan konsep pertanian terintegrasi yang memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Selama sekitar dua bulan sebelum peluncuran, masyarakat setempat bergotong royong membuka dan menata kembali kawasan tersebut agar dapat digunakan untuk kegiatan produksi pertanian.
Pengelolaan lahan kemudian dibagi berdasarkan zona komoditas. Pada level pertama, lahan dimanfaatkan untuk tanaman kopi dan alpukat. Zona berikutnya digunakan untuk peternakan ayam petelur, kambing, dan domba yang dilengkapi Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO).