Banjarnegara Siaga Kekeringan 2026, Bupati Siapkan Sumur Bor hingga Embung untuk Solusi Jangka Panjang
- Pemkab Banjarnegara
Banjarnegra, VIVA Banyumas – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara resmi menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan selama 90 hari, terhitung mulai 22 Juni hingga 19 September 2026. Penetapan ini menjadi langkah antisipatif menghadapi potensi krisis air bersih yang diperkirakan meningkat selama puncak musim kemarau tahun ini.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Banjarnegara Nomor 300.2/470 Tahun 2026, yang disahkan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Antisipasi dan Kesiapan Menghadapi Musim Kemarau di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Banjarnegara, Senin (22/6/2026).
Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, menegaskan bahwa penanganan kekeringan tidak boleh hanya bersifat darurat atau jangka pendek melalui distribusi air bersih. Menurutnya, pemerintah daerah harus mulai beralih pada pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Upaya tersebut mencakup pembangunan sumur bor, embung, optimalisasi pompa air, hingga pencarian dan pengembangan sumber-sumber air baru yang lebih dekat dengan wilayah terdampak.
“Penanganan kekeringan tidak cukup hanya dengan dropping air. Kita harus menghadirkan solusi jangka panjang agar persoalan ini tidak terus berulang setiap tahun,” kata Amalia.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur di tingkat desa, termasuk penyediaan tandon air di permukiman warga. Dengan adanya fasilitas tersebut, distribusi bantuan diharapkan menjadi lebih efektif dan tidak lagi dilakukan secara manual dari rumah ke rumah.
Selain itu, para camat diminta segera melakukan pemetaan wilayah terdampak, mengidentifikasi sumber air terdekat, serta mendata seluruh bantuan yang telah tersalurkan agar tidak terjadi tumpang tindih distribusi.
Langkah antisipasi ini diperkuat oleh analisis dari BMKG yang memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus.
Sejumlah wilayah di Banjarnegara disebut masuk kategori rawan kekeringan, di antaranya Mandiraja, Purwanegara, Bawang, Klampok, dan Susukan.
Dampak awal sudah mulai dirasakan masyarakat, khususnya di Desa Gemuruh dan Desa Serang, Kecamatan Bawang. Warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai respons cepat, BPBD Banjarnegara bersama PMI telah menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Total distribusi tercatat mencapai 57 tangki atau sekitar 285 ribu liter air bersih.