Kabar Baik! Gula Semut Banyumas Diekspor ke Amerika, Mendag Sebut Berpeluang Kuasai Pasar Dunia
- ANTARA
VIVA Banyumas – Gula kelapa kristal atau gula semut asal Banyumas, Jawa Tengah, dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama di pasar global. Meningkatnya permintaan internasional serta semakin luasnya akses perdagangan melalui berbagai perjanjian dagang diyakini akan memperkuat posisi komoditas unggulan tersebut di pasar ekspor.
Optimisme itu disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso saat menghadiri pelepasan ekspor gula semut milik PT Integral Mulia Cipta (IMC) di Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Kamis.
"Mudah-mudahan gula kelapa atau gula semut Banyumas menjadi pemasok terbesar dunia. Ke depan, kalau ada hilirisasi tentu nilai tambahnya akan semakin tinggi," kata Budi Santoso.
Pada kesempatan tersebut, PT IMC melepas ekspor gula semut organik senilai 46.000 dolar Amerika Serikat dengan tujuan Chicago, Amerika Serikat. Pengiriman ini menjadi bagian dari strategi memperluas penetrasi pasar internasional bagi produk unggulan asal Banyumas.
Menurut Budi, keberhasilan ekspor tersebut membuktikan bahwa produk yang lahir dari kawasan pedesaan mampu bersaing di pasar global sekaligus memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekspor nasional.
Ia menjelaskan pemerintah terus membuka peluang pasar baru melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional yang telah dijalin dengan sejumlah negara.
Amerika Serikat, lanjutnya, masih menjadi salah satu tujuan ekspor paling potensial. Pada 2025, negara tersebut mencatat surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia, yakni mencapai 18,11 miliar dolar AS dari total ekspor sekitar 30,9 miliar dolar AS.
"Produk-produk manufaktur padat karya seperti alas kaki, pakaian jadi, elektronik, termasuk gula semut, memiliki pasar yang besar di Amerika," katanya.
Selain memperluas akses perdagangan, Kementerian Perdagangan juga mengoptimalkan peran 46 perwakilan dagang Indonesia di luar negeri yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC). Kehadiran perwakilan tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha nasional memperoleh pasar baru sekaligus meningkatkan nilai ekspor.
Di sisi lain, pemerintah juga menaruh perhatian pada penguatan sertifikasi dan standar mutu produk. Budi menilai kerja sama saling pengakuan sertifikasi atau Mutual Recognition Arrangement (MRA) penting agar hasil pengujian laboratorium Indonesia dapat diterima di negara tujuan ekspor.