Aurelie Moeremans Ungkap Kekerasan dan Eksploitasi Masa Remaja dalam Memoar Broken Strings
- Instagram/aurelie
VIVA Banyumas – Memoar Aurelie Moeremans yang berjudul Broken Strings berhasil menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.
Buku ini menyentuh banyak pembaca karena menyingkap kisah masa lalu Aurelie yang sarat luka, trauma, dan perjuangan.
Dalam memoar tersebut, Aurelie Moeremans secara jujur mengisahkan pengalaman pahitnya, mulai dari bullying, eksploitasi, hingga kekerasan dalam hubungan yang tidak sehat sejak usia remaja.
Salah satu kisah yang paling banyak diperbincangkan adalah hubungannya dengan seorang pria bernama “Bobby” (nama samaran), yang menjalin kedekatan dengannya ketika Aurelie Moeremans baru berusia 15 tahun.
Pada saat itu, pria tersebut berusia 29 tahun, sehingga publik menyoroti adanya unsur grooming dan ketimpangan kekuasaan.
Kisah ini membuka diskusi luas mengenai kekerasan dan manipulasi dalam hubungan yang melibatkan remaja.
Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, melalui kanal YouTube Gemilang Sehat, memberikan pandangan profesional terkait isu ini.
Ia menekankan bahwa trauma akibat kekerasan seksual termasuk luka psikologis yang paling kompleks dan membutuhkan waktu panjang untuk pemulihan.
Menurut Gisella, langkah pertama yang penting adalah memastikan keamanan fisik dan emosional korban, terutama anak atau remaja.
"Kita harus safety first. Pastikan anak atau remaja berada dalam kondisi yang aman dan tidak lagi berdekatan dengan pelaku. Jangan buru-buru ingin tahu kronologinya, tapi pikirkan dulu keselamatannya,” ujar Gisella, dikutip dari tvOneNews, Selasa (13/1/2026).
Setelah kondisi aman, korban perlu diberikan ruang untuk bercerita tanpa tekanan.
Gisella menekankan pentingnya mendengarkan perasaan korban, meski itu berupa tangisan atau ungkapan ketidaknyamanan.
“Kadang mereka cuma bisa menangis atau bilang ‘aku nggak nyaman’. Itu harus diterima dulu. Jangan buru-buru menasehati atau menghakimi,” katanya.
Psikolog ini juga menyoroti kesalahan umum masyarakat, seperti menyalahkan korban dengan pertanyaan, “kenapa nggak lari?”, “kenapa nurut?”, atau “kenapa pakai baju begitu?”.
Sikap tersebut justru memperparah trauma. Pendekatan yang lebih tepat adalah mendengarkan dengan empati dan tanpa penilaian.
Dampak trauma kekerasan seksual, menurut Gisella, tidak hanya dirasakan korban secara pribadi, tetapi juga bisa memengaruhi lingkungan sekitar.