Aurelie Moeremans Ungkap Pengalaman Traumatis 'Child Grooming' dan Hubungan Abusif Lewat Memoar 'Broken Strings'
- Instagram @aurelie dan screenshoot buku pdf broken string
VIVA Banyumas – Artis Aurelie Moeremans mengejutkan publik dengan merilis sebuah memoar emosional berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Melalui buku tersebut, Aurelie secara terbuka mengakui bahwa kisah yang ia tulis merupakan refleksi jujur dari masa lalunya yang kelam sebagai penyintas child grooming dan kekerasan psikologis di industri hiburan Tanah Air.
Buku yang kini tengah viral di media sosial tersebut mengungkap sisi gelap perjalanan hidup Aurelie yang dimulai sejak ia masih berusia remaja.
Bermula dari Brussels ke Panggung Jakarta Dalam narasinya, Aurelie mengisahkan masa kecilnya yang dihabiskan di Brussels, Belgia.
Tumbuh dalam keluarga sederhana dan sering mengalami perundungan di sekolah karena perbedaan latar belakang budaya, Aurelie membentuk karakter sebagai anak yang patuh dan cenderung memendam perasaan.
Perubahan besar terjadi saat ia pindah ke Indonesia dan terjun ke dunia hiburan pada usia 15 tahun setelah memenangkan sebuah ajang pencarian bakat di Bandung.
Namun, popularitas yang datang begitu cepat ternyata membawa ancaman yang tidak ia sadari.
Terjebak 'Child Grooming' di Usia 15 Tahun Inti dari memoar ini menyoroti perkenalannya dengan seorang aktor dewasa—yang dalam buku tersebut menggunakan nama samaran Bobby—yang usianya saat itu hampir dua kali lipat darinya (29 tahun).
Aurelie menggambarkan proses grooming yang sistematis: berawal dari perhatian berlebih, pujian, hingga tawaran perlindungan yang perlahan berubah menjadi jeratan kontrol total.
"Buku ini bukan versi yang dipoles, melainkan apa yang sebenarnya terjadi. Saat seorang gadis terlalu muda untuk mengerti, dan terlalu takut untuk bersuara," tulis Aurelie dalam prolognya.
Selama hubungan tersebut, Aurelie mengalami berbagai bentuk kekerasan psikologis, di antaranya:
- Isolasi Sosial: Dibatasi komunikasinya dengan dunia luar dan dijauhkan dari teman-teman sebaya.
- Kontrol Pakaian: Pelaku mengatur cara berpakaian hingga setiap detail penampilannya.
- Gaslighting: Manipulasi emosional yang membuatnya selalu merasa bersalah dan merasa tidak cukup baik.
- Ancaman Fisik dan Mental: Termasuk pengakuan traumatis saat ia dipaksa menandatangani dokumen pernikahan di bawah tekanan luar biasa.