Kronologi Kebakaran Limbah Triplek Bukateja Purbalingga, Asap Ganggu Pengguna Jalan
- BPBD Purbalingga
Api dari limbah triplek di Bukateja membesar hingga timbulkan asap pekat yang ganggu lalu lintas. Damkar dan BPBD turun tangan padamkan api
Viva, Banyumas - Senin malam, 25 Agustus 2025, warga Desa Kembangan, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, dikejutkan dengan kebakaran limbah triplek di wilayah RT 04 RW 06. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 20.00 WIB dan sempat membuat kepanikan warga sekitar.
Menurut keterangan saksi mata, api bermula dari tumpukan limbah triplek yang sengaja dibakar oleh seseorang. Sayangnya, api ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan. Pada pukul 19.30 WIB, api yang semula kecil mulai membesar dan merambat cepat ke tumpukan limbah lainnya.
Tidak lama kemudian, kobaran api menimbulkan kepulan asap tebal yang mengganggu pengguna jalan di jalur Kembangan–Karangcengis. Dikutip dari laman Instagram BPBD Purbalingga, Sejumlah pengendara motor dan mobil terpaksa melambatkan laju kendaraan karena jarak pandang menurun drastis akibat asap pekat.
Beberapa warga juga mengeluhkan sesak napas ringan karena paparan asap tersebut. Untungnya, api tidak merambat ke pemukiman warga, sehingga kerugian materiil dapat diminimalisasi. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Purbalingga segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Sebanyak satu unit mobil damkar dengan tujuh personel tiba di lokasi untuk melakukan pemadaman.
Tidak hanya itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga juga turut membantu dengan menurunkan satu unit tangki air berkapasitas 5.000 liter beserta dua personel pendukung. Proses pemadaman berlangsung cukup cepat berkat kerja sama tim di lapangan. Dalam waktu singkat, api berhasil dikendalikan dan situasi kembali normal.
Meskipun tidak ada korban jiwa maupun luka, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat mengenai bahaya membakar limbah sembarangan. Kombes Pol Arif Budiman, pejabat terkait di Purbalingga, mengimbau agar warga lebih bijak dalam mengelola sampah maupun limbah produksi.
"Pembakaran limbah tanpa pengawasan sangat berisiko memicu kebakaran besar. Kami harap masyarakat bisa menghindari praktik tersebut," tegasnya.
Peristiwa ini sekaligus menyoroti pentingnya kesadaran lingkungan. Pengelolaan limbah seharusnya dilakukan dengan cara ramah lingkungan, bukan dengan membakar. Jika dibiarkan, kejadian serupa bisa mengganggu kesehatan masyarakat dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Kini, jalur Kembangan–Karangcengis kembali normal dan aktivitas warga berjalan seperti biasa. Meski begitu, aroma sisa asap kebakaran masih tercium di sekitar lokasi hingga beberapa jam setelah api padam