Diaspora Denmark Salsa Erwina Tantang Sahroni Debat Usai Sebut Pembubar DPR Mental Tertolol Sedunia
- instagram @salsaer
Ahmad Sahroni sebut orang tolol sedunia soal wacana bubarkan DPR. Diaspora Indonesia di Denmark, Salsa Erwina, menantang debat terbuka, respons Sahroni malah bercanda
Viva, Banyumas - Pernyataan kontroversial Ahmad Sahroni, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, kembali menjadi sorotan publik. Saat kunjungan kerja di Polda Sumut pada Jumat (22/8/2025), Sahroni menyebut bahwa orang yang meminta DPR dibubarkan sebagai “mental manusia tertolol sedunia.” Ucapan ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk dari diaspora Indonesia di Denmark, Salsa Erwina Hutagalung.
Salsa Erwina, yang akrab dikenal dengan akun Instagram @salsaer, secara terbuka menantang Ahmad Sahroni untuk melakukan debat profesional. Tantangan itu disampaikan melalui unggahan media sosialnya pada Rabu (27/8/2025).
Ia menegaskan bahwa debat harus dilakukan secara formal, dengan aturan jelas, juri independen, dan argumen yang diuji secara terbuka. Menurutnya, demokrasi membutuhkan ruang diskusi sehat, bukan pernyataan yang merendahkan rakyat.
Menariknya, respons Ahmad Sahroni justru mengundang tanda tanya publik. Melalui Instagram Story di akun @ahmadsahroni88, ia menuliskan bahwa dirinya tidak sanggup meladeni ajakan tersebut. Dengan nada bercanda, Sahroni menulis bahwa ia masih “bloon” dan ingin bertapa dulu agar lebih pintar.
Ungkapan tersebut dianggap sebagian netizen sebagai bentuk pengalihan isu, bukan jawaban substantif atas kritik.
Fenomena ini menyoroti dua hal penting. Pertama, sikap pejabat publik terhadap kritik. Dalam konteks demokrasi, kritik semestinya dipandang sebagai kontrol sosial yang membangun, bukan dimusuhi dengan label merendahkan.
Kedua, keberanian diaspora seperti Salsa Erwina menunjukkan bahwa keterlibatan warga negara tidak terbatas pada batas geografis. Meskipun tinggal di luar negeri, ia merasa terpanggil untuk menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.
Tak heran, perdebatan di jagat maya pun semakin panas. Banyak warganet mendukung langkah Salsa Erwina sebagai bentuk partisipasi kritis warga negara.
Di sisi lain, ada pula yang menilai bahwa gaya bercanda Sahroni justru memperburuk citra DPR di mata publik, terutama karena pernyataan awalnya sudah memicu kontroversi. Kasus ini menjadi cermin bagaimana komunikasi politik di era digital bisa berdampak luas.
Pernyataan singkat dari seorang pejabat dapat langsung direspons publik, bahkan melampaui batas negara. Tantangan debat dari diaspora Indonesia menegaskan bahwa rakyat, baik di tanah air maupun luar negeri, menginginkan ruang diskusi yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab.
Jika DPR ingin tetap dipercaya, penting bagi setiap anggotanya untuk merespons kritik dengan substansi, bukan sekadar candaan. Publik kini menunggu, apakah tantangan Salsa Erwina akan ditanggapi serius atau sekadar menjadi isu viral sesaat