Geger! Pemuda Aceh Ditangkap di Kebumen, Bawa Ratusan Butir Pil Sapi
- Polres Kebumen
Polres Kebumen ciduk pemuda Aceh dengan ratusan butir pil sapi dan obat keras ilegal. Kasus ini mengungkap maraknya penyalahgunaan obat berbahaya di kalangan muda
Viva, Banyumas - Satuan Reserse Narkoba Polres Kebumen berhasil membongkar peredaran obat keras ilegal yang meresahkan masyarakat. Seorang pemuda berinisial ZM (23), asal Aceh dan berdomisili di Kebumen, ditangkap saat melakukan transaksi di tribun selatan Stadion Candradimuka pada Sabtu (5/7/2025) malam.
Wakapolres Kebumen Kompol Faris Budiman, mewakili Kapolres AKBP Eka Baasith Syamsuri, menjelaskan bahwa tersangka diamankan dengan barang bukti ratusan butir obat keras berbagai jenis. Dari tangan ZM, polisi menyita 220 butir Hexymer, 390 butir pil sapi atau dobel Y, 22 butir Trihexyphenidyl, serta 127 butir Tramadol.
“Obat-obatan ini seharusnya hanya bisa ditebus dengan resep dokter. Namun tersangka memperjualbelikannya secara bebas kepada masyarakat,” ungkap Kompol Faris didampingi Kasatresnarkoba AKP Heru Sanyoto dalam konferensi pers di Polres Kebumen, Selasa (26/8/2025).
Menurut keterangan tersangka, pembeli obat keras mayoritas berasal dari wilayah Kebumen. Beberapa di antaranya bahkan masih berusia muda dan berasal dari komunitas anak punk. Dari berbagai jenis obat yang diamankan, pil sapi menjadi yang paling diminati karena harganya relatif murah dan efek mabuk yang ditimbulkannya.
Padahal, penyalahgunaan pil sapi bisa berdampak sangat serius bagi kesehatan. Efek sampingnya meliputi halusinasi, gangguan perilaku, kerusakan organ tubuh, hingga ketergantungan kronis. Jika dikonsumsi berlebihan, risiko fatal bahkan bisa berujung pada kematian.
Atas perbuatannya, ZM dijerat Pasal 435 jo Pasal 138 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2024 tentang Kesehatan, dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara dan denda hingga Rp5 miliar.
Polres Kebumen menegaskan akan terus memperketat pengawasan dan menindak tegas peredaran obat keras ilegal di wilayah hukumnya. Kompol Faris juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan tidak tergiur membeli obat keras tanpa resep, karena dampaknya bisa merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Selain itu, orang tua juga diminta untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak mereka agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Fenomena penyalahgunaan pil sapi dan obat keras lainnya kini menjadi tantangan serius yang membutuhkan peran aktif semua pihak, baik aparat, keluarga, maupun masyarakat.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa penyalahgunaan obat keras ilegal bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman nyata bagi masa depan generasi muda