Peternak Ayam Petelur di Magelang Gelar Aksi Protes, Desak Pemerintah Turunkan Harga Pakan dan Kestabilan Harga Telur
- Ist
VIVA Banyumas – Ratusan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Magelang (P3M) menggelar aksi damai di Alun-Alun Kota Magelang, Senin, 10 Agustus 2026.
Aksi tersebut menjadi bentuk protes peternak terhadap kondisi usaha yang semakin tertekan. Harga pakan unggas terus meningkat, sementara harga jual telur di tingkat peternak justru berada di bawah biaya produksi.
Sekretaris Asosiasi Paguyuban Peternak Petelur Magelang, Arif Sosiawan, mengatakan kenaikan harga pakan terjadi cukup signifikan dalam tiga bulan terakhir. Harga pakan pabrikan yang sebelumnya sekitar Rp6.200 per kilogram kini mencapai Rp8.000 per kilogram.
Kondisi tersebut sangat berdampak terhadap biaya operasional peternak. Pasalnya, pakan menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi telur.
Biaya pakan mencapai sekitar 80 persen dari total biaya produksi. Ketika harga pakan naik, sementara harga telur turun, peternak langsung berada dalam posisi tertekan.
Persoalan semakin berat karena harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berada di kisaran Rp20.500 per kilogram.
Angka tersebut tidak hanya berada jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang disebut mencapai Rp26.500 per kilogram, tetapi juga lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi (HPP) peternak yang berada di sekitar Rp22.000 per kilogram.
Dengan kondisi tersebut, setiap kilogram telur yang dijual berpotensi membuat peternak menanggung kerugian. Selisih antara harga jual dan biaya produksi membuat keberlangsungan usaha semakin sulit dipertahankan.
Tekanan biaya juga membuat sebagian peternak mengambil langkah yang tidak ideal. Mereka melakukan afkir dini terhadap ayam petelur yang produksinya mulai menurun.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya pakan dan pemeliharaan harian. Namun, dalam jangka panjang, pengurangan populasi ayam juga dapat memengaruhi kapasitas produksi telur.
Dalam aksi di Alun-Alun Kota Magelang, para peternak menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah. Mereka meminta adanya kebijakan yang dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus memperbaiki harga telur di tingkat peternak.
Lima tuntutan tersebut meliputi:
- Menurunkan harga pakan ternak.
- Meningkatkan harga jual telur agar sesuai dengan standar yang ditetapkan.
- Menghapus monopoli impor bahan baku pakan.
- Memastikan ketersediaan jagung sesuai harga acuan.
- Membentuk kementerian khusus yang menangani sektor peternakan.