IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Analis Sebut Risiko Koreksi Masih Besar Meski Dibuka di Zona Hijau Hari Ini
- Antara
VIVA Banyumas –IHSG diperkirakan bergerak volatil setelah pelemahan Bursa Asia dan Wall Street, sehingga investor perlu mencermati Support IHSG, Resistance IHSG, serta Prediksi IHSG sebelum mengambil keputusan investasi.
IHSG mengawali perdagangan Senin, 20 Juli 2026, di zona hijau. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat 21 poin atau 0,36 persen ke level 6.197, meski sentimen global masih membayangi pergerakan pasar.
Penguatan pada awal perdagangan terjadi di tengah tekanan yang masih melanda bursa saham global, terutama setelah pelemahan tajam saham-saham teknologi dan semikonduktor di Amerika Serikat serta Asia.
Head of Retail Research Analyst, Fanny Suherman, menilai IHSG masih menghadapi risiko koreksi apabila belum mampu menembus area resistance penting.
"IHSG masih rentan terkoreksi hari ini, sepanjang gagal break resistance di 6.200-6.300," kata Fanny dikutip dari VIVA.co.id dalam riset hariannya, Senin, 20 Juli 2026.
Menurutnya, area support IHSG berada pada kisaran 6.050 hingga 6.100. Sementara itu, resistance berada di rentang 6.200 hingga 6.300.
"Support IHSG berada di level 6.050-6.100 sementara resist IHSG di rentang 6.200-6.300," ujarnya.
Sentimen eksternal masih menjadi perhatian investor setelah mayoritas bursa Asia ditutup melemah pada perdagangan Jumat pekan lalu.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 4,03 persen, sedangkan Topix terkoreksi 2,72 persen. Di Hong Kong, Hang Seng melemah 1,78 persen, sementara Taiex Taiwan mencatat penurunan terdalam hingga 6,47 persen. Indeks ASX 200 Australia juga turun 0,50 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, FTSE Straits Times Singapura melemah 0,54 persen. Berbeda dengan bursa lainnya, FTSE Malay KLCI Malaysia justru mampu menguat 0,54 persen. Adapun pasar saham Korea Selatan tidak beroperasi karena hari libur nasional.
Tekanan di bursa Asia dipicu pelemahan saham-saham teknologi Jepang setelah aksi jual pada sektor semikonduktor di Wall Street menyebar ke pasar regional. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek belanja kecerdasan buatan (AI).
Beberapa saham teknologi Jepang mencatat penurunan signifikan. SoftBank anjlok 8,8 persen, Tokyo Electron turun 9 persen, sementara Advantest melemah 9,4 persen.
Dari Amerika Serikat, tiga indeks utama Wall Street juga mengakhiri perdagangan Jumat lalu di zona merah.