Bahlil Lahadalia Ungkap Alasan B50 Jadi Sejarah Baru Energi Indonesia, Impor Solar Kini Diklaim Berhenti Total
- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
VIVA Banyumas – Bahlil Lahadalia menyatakan implementasi B50 berbasis biodiesel oleh Kementerian ESDM berhasil menghentikan impor solar sebagai langkah memperkuat kedaulatan energi Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan implementasi biodiesel B50 menjadi tonggak penting dalam upaya Indonesia memperkuat kemandirian energi.
Melalui penerapan bahan bakar dengan campuran biodiesel 50 persen tersebut, pemerintah mengklaim Indonesia kini tidak lagi mengimpor produk solar yang selama ini masih dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil Lahadalia saat peluncuran program B50 bersama Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan energi sesuai visi Asta Cita Presiden.
“Hari ini kita tidak hanya meluncurkan B50, tapi kita juga mengambil satu langkah besar menuju Indonesia yang semakin berdaulat di sektor energi sesuai dengan Asta Cita Bapak Presiden,” kata Bahlil.
Bahlil Lahadalia Sebut B50 Akhiri Impor Solar
Dalam laporannya kepada Presiden, Bahlil mengungkapkan konsumsi solar nasional selama ini berada di kisaran 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun.
Dari total kebutuhan tersebut, Indonesia sebelumnya masih mengimpor sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter solar setiap tahun.
Menurutnya, implementasi B50 membawa perubahan signifikan terhadap neraca energi nasional karena mampu menutup kebutuhan yang sebelumnya dipenuhi melalui impor.
“Kami laporkan Bapak Presiden, bahwa untuk solar, total konsumsi kita Bapak, itu rata-rata di angka 38 juta sampai dengan 40 juta kiloliter solar per tahun,” tuturnya.
“Awalnya kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter per tahun. Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali, Bapak,” lanjut dia.
Klaim tersebut menunjukkan pemerintah menilai peningkatan pemanfaatan biodiesel berbasis bahan baku domestik mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Implementasi B50 Diakui Tidak Mudah
Meski demikian, Bahlil Lahadalia mengakui proses percepatan implementasi B50 bukanlah pekerjaan yang sederhana.
Secara teknis, peningkatan kadar campuran biodiesel selama ini dilakukan secara bertahap agar memenuhi aspek keamanan dan kelayakan penggunaan.
Ia menjelaskan, peningkatan campuran biodiesel biasanya hanya dilakukan sebesar 5 hingga 10 persen dalam setiap tahap. Bahkan, kenaikan sebesar 10 persen memerlukan waktu hingga tiga tahun untuk proses pengujian.
“Awalnya memang B50 ini jujur kami katakan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah. Karena biasanya tahapannya itu Bapak Presiden, naik 5, maksimal 10. Itu pun 10 itu dia tiga tahun baru bisa kita melakukan uji coba,” ungkapnya.
Namun demikian, pemerintah memutuskan mempercepat tahapan tersebut sebagai tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo agar program B50 dapat diluncurkan sesuai target.
“Tapi perintah Bapak Presiden waktu itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa bagaimana caranya pun B50 harus kita bisa luncurkan di 2026,” jelas dia.
Pemerintah Sebut B50 Bagian dari Kedaulatan Energi
Menurut Bahlil Lahadalia, pemerintah memandang program B50 tidak hanya sebatas peningkatan kandungan biodiesel dalam bahan bakar.