Generasi Muda Banyumas Diajak Kenali Petungan Jawa, Warisan Budaya yang Kini Kalah Populer dari Horoskop

Bupati Banyumas Ajak Generasi Muda Lestarikan Petungan Jawa, Tradisi Leluhur yang Kini Mulai Dilupakan
Sumber :
  • ANTARA/HO-Pemkab Banyumas

VIVA BanyumasBupati Banyumas mengajak Generasi Muda di Banyumas untuk mengenal Petungan Jawa dan Weton sebagai bagian dari Warisan Budaya yang harus terus dilestarikan.

img_title 06 Ribu Penumpang Padati Kereta Api Selama Libur Sekolah, Banyumas Jadi Salah Satu Titik Tersibuk di Daop 5 Purwokerto

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengajak generasi muda untuk mengenal sekaligus melestarikan tradisi petungan Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai filosofi dan kearifan lokal.

Menurutnya, pengetahuan tradisional tersebut perlu terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.

img_title Festival dan Grebeg Suran Baturraden Diusulkan Masuk KEN 2027, DPR Sebut Banyumas Punya Potensi Wisata Kelas Nasional

Ajakan itu disampaikan saat membuka Workshop Tradisi Petungan Jawa: dari Kelahiran sampai Kematian yang diselenggarakan Paguyuban Kawruh Rasa Sejati di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Dalam sambutannya, Sadewo menegaskan bahwa petungan Jawa bukan sekadar sistem untuk menentukan hari baik, tetapi merupakan warisan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam memaknai kehidupan.

img_title Grebeg Suran Baturraden 2026 Jadi Magnet Wisata Banyumas, Bupati Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Lokal

“Juga merupakan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam memaknai perjalanan hidup manusia,” katanya.

Bupati menjelaskan, petungan Jawa merupakan sistem perhitungan berbasis kalender tradisional yang hingga kini masih menjadi rujukan bagi sebagian masyarakat Jawa.

Tradisi tersebut digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari menentukan hari baik, membaca karakter seseorang, hingga mempertimbangkan kecocokan pasangan sebelum melangsungkan pernikahan.

Menurutnya, sistem itu dilakukan dengan menggabungkan nilai hari dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi tersebut dikenal sebagai neptu, yakni nilai tertentu yang melekat pada hari dan pasaran kelahiran seseorang.

“Sistem tersebut bekerja dengan menjumlahkan nilai hari dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, yang dikenal dengan istilah neptu (nilai tertentu dari hari dan pasaran seseorang),” katanya.

Hasil perhitungan tersebut kemudian dianalisis oleh sesepuh atau juru hitung weton sebagai dasar untuk menyelaraskan berbagai aktivitas dengan pandangan masyarakat Jawa mengenai keseimbangan alam semesta.

Sadewo menilai pengetahuan seperti ini merupakan bagian dari identitas budaya yang tidak boleh hilang.

Karena itu, ia mengapresiasi penyelenggaraan workshop sebagai wadah berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, sekaligus mendokumentasikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Halaman Selanjutnya
img_title