IHSG Dibuka Turun, Investor Resah! Konflik AS-Iran dan Inflasi Jadi Momok Baru Pasar Saham
- ANTARA
VIVA Banyumas – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu diperkirakan bergerak fluktuatif.
Pergerakan IHSG masih dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang mencermati dinamika geopolitik, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat turun sebesar 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62.
Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 justru menunjukkan penguatan tipis sebesar 1,20 poin atau 0,17 persen ke posisi 723,60.
Kondisi ini mencerminkan adanya tarik-menarik sentimen di pasar saham, di mana sebagian investor masih bersikap hati-hati terhadap perkembangan global.
"IHSG diperkirakan berpotensi melemah dan menguji level support di 6.800-7.000," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari sisi global, Presiden AS Donald Trump menyampaikan rencana penghentian sementara konflik dengan Iran.
Hal ini dilakukan setelah adanya sinyal negosiasi serta penundaan rencana serangan militer terhadap fasilitas PLTU Iran, dengan syarat Iran segera membuka Selat Hormuz.
Meski demikian, pihak Iran membantah adanya proses negosiasi langsung, walaupun mengakui menerima pesan dari sejumlah negara terkait ajakan dialog dari AS.
Sebelumnya, Iran sempat mengeluarkan ancaman akan menyerang infrastruktur strategis milik AS dan Israel, termasuk sektor energi, teknologi informasi, serta fasilitas desalinasi, apabila terjadi serangan terhadap infrastruktur energi mereka.
Ketegangan ini turut memicu lonjakan harga minyak mentah dan gas dunia, yang kemudian meningkatkan kewaspadaan bank sentral terhadap potensi lonjakan inflasi.
Sejumlah bank sentral utama dunia seperti The Fed, European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), Bank of Japan (BoJ), hingga Bank of Canada memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
Meskipun The Fed masih memproyeksikan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, pasar tampaknya mulai mengabaikan kemungkinan tersebut akibat kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis dengan menurunkan batas minimal pembelian dolar AS yang memerlukan dokumen pendukung menjadi 50 ribu dolar AS, dari sebelumnya 100 ribu dolar AS.
Kebijakan ini bertujuan untuk meredam spekulasi di pasar valuta asing yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 April 2026 dengan masa transisi hingga akhir April 2026.