Presiden Prabowo Teken Kesepakatan Tarif AS, Surplus Dagang RI Diyakini Tetap Terjaga

Presiden RI Prabowo Subianto
Sumber :
  • Tim Media Presiden Prabowo

VIVA BanyumasPresiden Prabowo menegaskan bahwa kesepakatan tarif Indonesia dan Amerika Serikat akan memperkuat ekspor Indonesia, menjaga neraca perdagangan, serta mengoptimalkan skema tarif dagang AS yang lebih menguntungkan.

img_title Kabar Baik! Gula Semut Banyumas Diekspor ke Amerika, Mendag Sebut Berpeluang Kuasai Pasar Dunia

Presiden Prabowo melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat untuk menandatangani kesepakatan tarif dagang yang telah disepakati kedua negara.

Langkah ini dipandang strategis dalam menjaga stabilitas ekspor nasional sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha, termasuk UMKM dan industri besar.

img_title Sempat Dikabarkan Terluka, Mojtaba Khamenei Kini Muncul dan Kirim Instruksi Keras ke Musuh Iran

Kesepakatan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi nasional di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif.

Executive Director Segara Institute, Piter Abdullah, menilai pemerintah menunjukkan keseriusan dalam memperjuangkan perjanjian tarif yang menguntungkan Indonesia.

img_title IHSG Dibuka Turun, Investor Resah! Konflik AS-Iran dan Inflasi Jadi Momok Baru Pasar Saham

“Presiden dan pemerintah tampak berkomitmen serta berupaya mendapatkan perjanjian tarif yang paling menguntungkan bagi Indonesia,” ujar Piter dikutip dari keterangannya Kamis, 19 Februari 2026.

Menurutnya, beberapa sektor unggulan harus menjadi fokus utama dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Komoditas seperti crude palm oil (CPO), tekstil, alas kaki, dan karet selama ini menjadi tulang punggung ekspor ke pasar AS.

Sektor-sektor tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok UMKM di dalam negeri.

Surplus Neraca Perdagangan Tetap Terjaga

Piter menilai kesepakatan tarif baru justru berpotensi memperkuat neraca perdagangan Indonesia.

Di tengah perang tarif global, Indonesia masih mampu mencatatkan surplus yang konsisten.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus sebesar USD 41,05 miliar. Capaian itu menjadi surplus ke-68 secara berturut-turut sejak Mei 2020.

“Terbukti kita masih bisa mempertahankan surplus neraca perdagangan. Saya kira kesepakatan baru antara Indonesia dan Amerika akan lebih menguntungkan Indonesia,” katanya.

Dimensi Strategis dan Tantangan Daya Saing

Ekonom UGM, Eddy Junarsin, menilai kerja sama dagang Indonesia dan AS memiliki nilai strategis yang lebih luas.

Hubungan ekonomi, menurutnya, tidak terlepas dari faktor politik, sosial, teknologi, hingga hukum internasional.

“Indonesia ingin tetap menjadi negara yang independen dan netral dalam konteks persaingan pengaruh global. Konstelasi ekonomi tidak bisa dipisahkan dari politik, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum internasional,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title