Tambang di Kaki Gunung Slamet Ditolak Warga Banyumas, Kerusakan Jalan dan Krisis Air Jadi Sorotan
- ANTARA/Sumarwoto
VIVA Banyumas – Sekitar seratus warga Kecamatan Sumbang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menyatakan sikap tegas menolak aktivitas pertambangan di kawasan kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Penolakan ini muncul karena kegiatan tambang dinilai berpotensi merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat setempat.
Aksi penolakan tersebut diwujudkan dengan mendatangi langsung lokasi tambang pasir hitam yang berada di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Banyumas, pada Minggu.
Warga memilih melakukan aksi damai tanpa orasi, dengan fokus pada pengecekan kondisi lahan yang telah mengalami kerusakan akibat aktivitas penambangan.
Sebagai bentuk sikap kolektif, warga kemudian memasang spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk area tambang.
Langkah ini menjadi simbol solidaritas sekaligus pernyataan terbuka bahwa masyarakat menaruh perhatian serius terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, Eka Wisnu, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan wujud empati dan dukungan warga Kecamatan Sumbang terhadap masyarakat Desa Gandatapa yang merasakan dampak langsung dari aktivitas pertambangan.
Menurutnya, pemasangan spanduk dipilih sebagai sarana menyampaikan sikap warga secara damai dan bermartabat.
“Kita sifatnya bersolidaritas dengan warga Gandatapa pada khususnya untuk memasang spanduk yang pada intinya adalah menolak tambang, karena dampaknya sangat dirasakan, apalagi untuk generasi kita ke depan. Anak cucu kita semua bisa diwarisi bencana,” katanya, dilansir dari ANTARA, Minggu (11/1/2026).
Eka menegaskan bahwa masyarakat tidak bermaksud menentang kebijakan atau aturan pemerintah.
Namun, warga menilai perlu ada pertimbangan serius terhadap dampak jangka panjang yang bisa ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan, terutama bagi lingkungan dan keberlangsungan hidup generasi mendatang di Banyumas.
Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan masyarakat, kata dia, adalah kerusakan infrastruktur jalan.
Jalan yang sebelumnya baru diperbaiki kembali mengalami kerusakan dalam waktu singkat akibat lalu lintas kendaraan berat dari kawasan tambang.
“Jalan-jalan cepat rusak, dan sementara jalan rusak itu tidak pernah dari pihak tambang sendiri yang menyentuh untuk perbaikan, semua hanya menunggu anggaran dari pemerintah. Ini baru beberapa bulan sudah ada yang rusak,” katanya.