OJK Purwokerto Nilai Sektor Jasa Keuangan Banyumas Raya 2025 Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global
- Istimewa
VIVA Banyumas – OJK Purwokerto menyatakan kinerja sektor jasa keuangan Banyumas Raya 2025 di Purwokerto tetap stabil, dengan perbankan sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi regional.
Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto menegaskan bahwa kinerja sektor jasa keuangan di wilayah Banyumas Raya sepanjang 2025 berada dalam kondisi stabil dan tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Capaian tersebut dinilai cukup solid, khususnya pada sektor perbankan, meskipun tekanan ketidakpastian ekonomi global masih membayangi pasar keuangan.
“Kinerja sektor jasa keuangan di wilayah kerja OJK Purwokerto yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara (Banyumas Raya) masih solid dan tumbuh positif, terutama didorong oleh sektor perbankan, meskipun dinamika global masih penuh tantangan,” kata Kepala Kantor OJK Purwokerto Haramain Billady di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dilansir dari ANTARA, Kamis (8/1/2026).
Berdasarkan data OJK hingga akhir Oktober 2025, sektor perbankan yang terdiri dari bank umum dan bank perkreditan rakyat/syariah (BPR/S) di Banyumas Raya mencatatkan pertumbuhan yang relatif baik.
Dari sisi aset, dana pihak ketiga (DPK), dan penyaluran kredit, masing-masing tumbuh sebesar 5,51 persen (year on year/yoy), 5,19 persen (yoy), dan 4,17 persen (yoy).
Menurut Haramain, performa tersebut terutama disumbang oleh bank umum yang beroperasi di bawah pengawasan OJK Purwokerto.
Bank umum membukukan pertumbuhan aset sebesar 5,21 persen (yoy), DPK meningkat 6,05 persen (yoy), serta kredit naik 4,99 persen (yoy).
Di sisi lain, kinerja BPR/S hingga Oktober 2025 tercatat mengalami tekanan. OJK Purwokerto mencatat adanya kontraksi pada aset sebesar 2,91 persen (yoy), DPK turun 1,48 persen (yoy), serta kredit menyusut 4,25 persen (yoy).
“Tingkat kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BPR/S masih tergolong tinggi, yakni 22,63 persen,” katanya.
Ia menjelaskan, tingginya rasio NPL tersebut tidak terlepas dari proses normalisasi kredit restrukturisasi pascapandemi COVID-19.
Dalam tahap ini, BPR/S melakukan penyesuaian terhadap kualitas kredit restrukturisasi yang berdasarkan hasil penilaian dinilai tidak lagi berkelanjutan.
Dari sisi komposisi penyaluran, kredit atau pembiayaan BPR/S masih didominasi oleh kredit produktif.
Kredit modal kerja menjadi porsi terbesar dengan pangsa mencapai 54 persen.
Penyaluran kredit tersebut sebagian besar menyasar segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang mengambil porsi 52 persen dari total kredit.