Tanah Bergerak di Desa Buluroto Blora Meluas, Rekahan Baru Muncul Dekati Permukiman Warga
- pexel @ahmedyuksek
Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto Blora kian meluas. Rekahan baru muncul dekat permukiman, menyebabkan rumah warga rusak dan penurunan tanah hingga 50 sentimeter.
Viva, Banyumas - Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terus meluas dan memicu kekhawatiran warga. Kondisi terbaru menunjukkan munculnya rekahan tanah baru yang berjarak sekitar satu meter dari rekahan lama, menandakan pergerakan tanah masih aktif dan berpotensi berdampak lebih luas ke permukiman penduduk.
Kapolsek Banjarejo AKP Gembong mengungkapkan bahwa pergerakan tanah tersebut menyebabkan penurunan permukaan tanah di sejumlah titik dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter.
Bahkan, penurunan kini terjadi di lokasi yang sebelumnya tidak terdampak. “Pergerakan tanah sudah meluas ke sisi-sisi lain, termasuk ke arah permukiman warga. Tidak hanya memanjang, tetapi menyebar,” ujar AKP Gembong, Jumat yang dikutip dari Antara pada 2 Januari 2026.
Berdasarkan pendataan awal, sedikitnya tiga rumah warga dan kandang ternak terdampak fenomena ini. Dua rumah dilaporkan mengalami kerusakan paling parah.
Pada salah satu rumah, tembok bangunan mengalami penurunan hingga sekitar 50 sentimeter, sehingga berisiko membahayakan keselamatan penghuni. Panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 meter.
Warga menyebut penurunan tanah terjadi hampir setiap hari, dengan kisaran 2–3 sentimeter, dan dapat mencapai 5 sentimeter saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Salah satu warga terdampak, Peniwati, mengaku selama satu bulan terakhir harus menguruk bagian belakang dapur rumahnya menggunakan satu mobil colt dan satu truk material. Area yang diuruk memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.
Hal serupa dialami Nur Hidayah, yang menyebut tanah di sekitar rumahnya amblas dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter. Sementara Sahid, warga lainnya, menyampaikan bahwa lahan miliknya juga terdampak dengan panjang 12 meter dan lebar sekitar 9 meter.
Warga setempat menyebut peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1998, ketika tanah ambles hingga kedalaman sekitar 2 meter. Saat itu, tanah tidak bergerak ke arah sungai, melainkan ambles secara vertikal ke bawah dan menyebabkan lantai rumah warga retak-retak.