Perajin Wayang Kulit Banjarnegara Hadapi Tantangan Bahan Baku dan Regenerasi

Bagong perajin Wayang kulit di Banjarnegara
Sumber :
  • ig/@kabupatenbanjarnegara

Banjarnegara, VIVA Banyumas – Di tengah upaya pelestarian wayang kulit, salah satu seni tradisional yang khas di Jawa, perajin di Kabupaten Banjarnegara mengalami berbagai tantangan, terutama terkait kesulitan mendapatkan bahan baku kulit kerbau yang menjadi komponen utama pembuatan boneka wayang.

img_title Suhu Dieng Minus 6 Derajat! Embun Upas Jadi Daya Tarik Wisata Banjarnegara, Kunjungan Melonjak Tajam

Kondisi ini dirasakan secara langsung oleh pengrajin senior Bagong Sugiyanto, yang dikenal sebagai salah satu penjaga warisan tatah sungging di daerah ini. 

Bagong, yang akrab disapa Pak Bagong, menyebut wayang kulit bukan sekadar pekerjaan atau sumber penghasilan, tetapi misi pelestarian warisan budaya yang kini makin langka dijumpai di Banjarnegara.

img_title Generasi Muda Banyumas Diajak Kenali Petungan Jawa, Warisan Budaya yang Kini Kalah Populer dari Horoskop

Ia tertantang untuk tetap mempertahankan keterampilan ini di kala banyak generasi muda enggan meneruskan tradisi tersebut. 

Suara denting alat tatah yang membentur kulit kerbau masih sering terdengar dari meja kerjanya, suatu ritme kehidupan yang menunjukkan ketekunan seorang perajin di tengah keterbatasan.

img_title Banjarnegara Siaga Kekeringan 2026, Bupati Siapkan Sumur Bor hingga Embung untuk Solusi Jangka Panjang

Kulit kerbau biasanya dipilih karena sifatnya yang kuat, tidak mudah kendor atau melengkung bila dibandingkan dengan kulit jenis lain, sehingga cocok untuk kerajinan wayang yang berkualitas tinggi. 

Namun, untuk mendapatkan kulit kerbau yang layak dipakai, Bagong dan perajin lain harus bersabar dan bekerja lebih keras, pasokan bahan baku seringkali terbatas dan tidak mudah diperoleh di pasar lokal.

Ketersediaan bahan baku ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perajin tradisional wayang kulit.

Hal ini juga menjadi refleksi atas situasi yang lebih luas di sentra-sentra kerajinan tradisional di Indonesia, di mana kelangkaan bahan baku dan minimnya regenerasi perajin turut mengancam kelangsungan seni ini. 

Jumlah perajin wayang kulit produktif di Banjarnegara kini juga terbilang sedikit, membuat upaya pelestarian seni ini semakin penting.

Di tangan Bagong yang terus menatah kulit meski prosesnya panjang dan memerlukan ketelitian tinggi tersimpan harapan bahwa tradisi ini tetap hidup, bukan hanya sebagai artefak sejarah tetapi sebagai bagian dari kehidupan budaya masyarakat setempat.