Huntara untuk Warga Terdampak Tanah Bergerak di Banyumas Mulai Ditempati 66 Keluarga

Banyumas Fasilitasi Hunian Sementara bagi 66 Keluarga Korban
Sumber :
  • ANTARA

VIVA Banyumas – Pemerintah Banyumas menyediakan hunian sementara bagi warga terdampak pergerakan tanah di Desa Ketanda sambil menyiapkan pembangunan hunian tetap Banyumas.

img_title Festival dan Grebeg Suran Baturraden Diusulkan Masuk KEN 2027, DPR Sebut Banyumas Punya Potensi Wisata Kelas Nasional

Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, telah menyiapkan hunian sementara (huntara) bagi 66 keluarga yang terdampak pergerakan tanah di Desa Ketanda.

Langkah ini bertujuan untuk menjamin keselamatan warga sambil menunggu pembangunan hunian tetap (huntap).

img_title Grebeg Suran Baturraden 2026 Jadi Magnet Wisata Banyumas, Bupati Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Lokal

"Kami sewakan rumah untuk huntara bagi warga terdampak selama enam bulan. Lokasinya di sekitar Desa Ketanda yang lebih aman, ada juga yang di luar desa," ungkap Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Andi Risdianto, dikutip dari ANTARA, Senin (15/12/2025).

Sebelumnya, sebagian besar warga Desa Ketanda yang terdampak bencana telah dievakuasi ke balai desa setempat selama kurang lebih satu bulan karena kondisi rumah mereka dinilai membahayakan keselamatan penghuni.

img_title Generasi Muda Banyumas Diajak Kenali Petungan Jawa, Warisan Budaya yang Kini Kalah Populer dari Horoskop

Pemindahan dari lokasi pengungsian ke huntara berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu (13/12) hingga Minggu (14/12), dengan melibatkan aparat desa dan relawan.

Andi menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Banyumas menargetkan pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak dapat selesai dalam waktu enam bulan, sejalan dengan masa tinggal mereka di huntara.

"Nantinya akan dibangun hunian tetap, semoga bisa terealisasi selama enam bulan ini. Kami masih berupaya mencari pendanaan," ujarnya.

Meski telah dilakukan pemindahan, pergerakan tanah di Desa Ketanda masih terus terjadi dengan pola lambat atau merayap.

"Masih ada pergerakan tanah, setiap hari ada pergerakan, pergerakannya merayap. Kejadiannya hampir berbarengan dengan longsor Majenang di Cilacap dan Pandanarum di Banjarnegara," tambah Andi.

Jumlah warga terdampak pun meningkat dari semula 21 rumah menjadi 66 rumah yang tersebar di tiga RT di RW 01 Desa Ketanda.

Pergerakan tanah ini terjadi pada Selasa (11/11) setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut.

Selain mengancam permukiman warga, bencana ini juga menimbulkan kerusakan pada jalan lingkungan serta dua tempat ibadah di desa setempat.