Rempah Banjarnegara Tembus Pasar Mancanegara: Ekspor ke Singapura & Belanda!

Proses packing Rempah Banjarnegara
Sumber :

Banyumas – Banjarnegara, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, kini menjadi sorotan dunia melalui keharuman rempah-rempahnya yang berhasil menembus pasar internasional. Bukan sekadar bumbu dapur biasa, rempah-rempah dari Desa Karangjati, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, telah naik kelas menjadi komoditas premium yang diminati di Singapura hingga Belanda. Keberhasilan ini tidak lepas dari inovasi dan ketekunan para pelaku usaha lokal, khususnya Kristiono Hadi Pranoto, yang berhasil mengangkat nilai jual rempah Banjarnegara ke kancah global.

Inovasi dan Kualitas Premium Kunci Sukses

Kristiono Hadi Pranoto, warga Desa Karangjati, telah membuktikan bahwa hasil pertanian rempah dapat memiliki nilai jual yang tinggi jika diolah dengan serius dan dikemas secara premium. Produk olahan rempahnya meliputi lada putih, lada hitam, cengkeh, kunyit, hingga pala bubuk. Proses pembuatan rempah premium ini dilakukan di rumah sederhananya, yang kini disulap menjadi etalase kecil untuk memamerkan produk-produk ekspornya. Melalui tangan dinginnya, rempah-rempah yang semula dianggap komoditas biasa, kini bernilai ratusan juta rupiah dan menjadi kebanggaan daerah.

Keberhasilan ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menggalakkan hilirisasi rempah nasional melalui Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025-2045. Peta jalan ini bertujuan untuk membangun ekosistem hulu-hilir rempah yang kuat, mengembalikan kejayaan rempah Nusantara, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Rempah-rempah unggulan seperti pala, lada, dan cengkeh yang juga tumbuh subur di Banjarnegara, menjadi fokus utama dalam strategi hilirisasi ini.

Menembus Pasar Internasional: Singapura dan Belanda

Produk rempah dari Banjarnegara, di bawah bendera Tumata Susukan, telah sukses menembus pasar mancanegara, termasuk Singapura dan Belanda. Pasar Belanda sendiri merupakan tujuan penting bagi ekspor rempah Indonesia, dengan misi dagang Kementerian Perdagangan RI pada Oktober-November 2025 yang mencatatkan potensi transaksi hingga USD 14,6 juta atau sekitar Rp 239,4 miliar. Kehadiran rempah Banjarnegara di pasar ini menjadi bukti nyata kontribusi UMKM dalam meningkatkan daya saing ekspor nasional.

Meskipun Indonesia adalah salah satu produsen lada terbesar di dunia, potensi ekspor lada masih perlu dimaksimalkan. Dengan adanya inisiatif seperti yang dilakukan Kristiono Hadi Pranoto, dan dukungan pemerintah daerah serta pusat, rempah Banjarnegara siap mengukir prestasi lebih tinggi lagi di pasar global.

Keberhasilan ini tidak hanya membawa keuntungan ekonomi bagi petani dan pelaku UMKM di Banjarnegara, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia sebagai "Mother of Spices" di mata dunia. Semangat inovasi dan keberanian dalam mengolah rempah lokal menjadi produk premium diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan potensi pertaniannya.

img_title Suhu Dieng Minus 6 Derajat! Embun Upas Jadi Daya Tarik Wisata Banjarnegara, Kunjungan Melonjak Tajam