Dedi Mulyadi: Belanda 350 Tahun Menjajah, Gunung Utuh! Kita 80 Tahun Merdeka, Malah Gundul!

Kang Dedi tegaskan disiplin ASN Jabar
Sumber :
  • instagram @dedimulyadi71

Banyumas – Pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi sorotan publik setelah pidatonya dalam peringatan Hari Guru Nasional 2025 viral di berbagai platform media sosial.

img_title Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Umumkan Pegawai Termalas Tiap Bulan di Medsos, ASN Jabar Ketar Ketir

Dalam pidatonya, Dedi menyampaikan kritik tajam terkait kerusakan lingkungan dan kemunduran pengelolaan alam Indonesia.

Ia menyoroti ironi sejarah saat Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, kondisi alam seperti gunung dan sungai tetap terjaga.
img_title Prabowo Ingatkan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi: Kalau Menyimpang, Saya Usut
 
Menurutnya, gunung masih berdiri utuh, sungai jernih, dan banyak bangunan serta jembatan warisan kolonial yang masih berdiri kokoh hingga kini.
img_title Viral! Dedi Mulyadi Bongkar Fakta Gaji dan Tunjangan Sebagai Gubernur Rp33 Miliar Per Tahun
 
“Belanda menjajah Indonesia 350 tahun gunung masih utuh, samudra masih terbentang luas, sungai-sungai jernih. Dia meninggalkan perkebunan yang terhampar, bangunan-bangunan yang indah, jalan-jalan yang kuat, jembatan kereta api yang kokoh,” ungkapnya.
 
Sebaliknya, setelah lebih dari 80 tahun merdeka, ia menilai Indonesia justru menghadapi banyak kerusakan. Gunung-gunung banyak yang gundul, sungai-sungai keruh, hingga kualitas infrastruktur yang mudah rusak.
 
Indonesia merdeka 80 tahun gunung gundul, sungai keruh, hutang menggunung… bangunan-bangunan hampir tidak ada yang berkualitas, jalan-jalan mudah rusak, jembatan mudah roboh. Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu?” tanya Dedi.
 
Dedi juga menyinggung persoalan utang negara dan tata kelola pembangunan yang dianggap tidak berkelanjutan.

Kritik ini memicu beragam reaksi.
 
Ada yang mendukung pernyataannya sebagai refleksi penting bagi bangsa agar lebih serius menjaga lingkungan.
 
Namun tak sedikit pula yang menilai perbandingan tersebut terlalu menyederhanakan konteks sejarah dan perkembangan ekonomi modern.