Insiden Jet Tempur Dekat Okinawa: Rivalitas China–Jepang Memasuki Babak yang Lebih Berisiko

Jet tempur F-15 Pasukan Bela Diri Jepang
Sumber :
  • wikiwand

VIVA Banyumas – Ketegangan meningkat ketika jet tempur dari China dan Jepang terlibat insiden radar jet tempur China–Jepang di wilayah Laut China Timur, memicu sorotan global terhadap penggunaan radar dalam operasi udara mereka.

img_title Laga Hidup Mati! Timnas Indonesia U-17 Hadapi Jepang, Peluang Lolos Masih Ada

Pemerintah China menegaskan bahwa negara tersebut telah menginformasikan lebih awal mengenai latihan militer Pasukan Pembebasan Rakyat (PLA) di sekitar Laut China Timur sebelum terjadinya insiden penguncian radar terhadap pesawat Angkatan Udara Bela Diri Jepang.

China menyatakan bahwa seluruh aktivitas latihan berlangsung sesuai hukum internasional dan praktik standar, termasuk penggunaan radar pencari yang umum dilakukan dalam penerbangan militer berbasis kapal induk.

img_title Sudah Dikasih Penalti, Timnas Indonesia U-17 Tetap Tumbang! Qatar Malah Pesta Dua Gol

Beijing juga menekankan bahwa area latihan telah diumumkan sebelumnya, sebagai respons atas keberatan yang dilontarkan Jepang terkait kurangnya pemberitahuan resmi.

Dilansir dari VIVA.co.id, Jepang melaporkan bahwa dua jet tempur J-15 milik Angkatan Laut China dua kali mengarahkan radar mereka ke pesawat F-15 milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang di wilayah laut terbuka dekat Okinawa pada 6 Desember.

img_title Timnas Futsal Indonesia Bikin Geger Dunia! Naik 10 Peringkat, Eropa Mulai Waspada

Insiden tersebut terjadi dalam dua periode berbeda, saat pesawat Jepang beroperasi untuk mencegah pergerakan jet tempur China mendekati wilayah udaranya.

Tindakan itu memicu ketegangan baru di tengah hubungan yang sudah sensitif antara kedua negara sejak pernyataan politik Jepang mengenai potensi ancaman terhadap Taiwan pada November 2025.

China kemudian kembali menyinggung sejarah kelam agresi militer Jepang pada era Perang Dunia II sebagai pengingat bahwa tindakan provokatif apa pun dapat memicu kekhawatiran kawasan.

Beijing menilai bahwa toleransi terhadap kelompok garis keras di Jepang hanya akan membuka ruang bagi bangkitnya kembali semangat militerisme yang pernah membawa penderitaan besar bagi masyarakat Asia.

Situasi yang memanas ini membuat aksi diplomatik kedua negara semakin tajam, termasuk saling melayangkan protes, penangguhan komunikasi tingkat tinggi, pembatasan perjalanan, hingga kebijakan yang berdampak pada sektor budaya dan pendidikan.

Di tengah isu geopolitik tersebut, perhatian publik juga mengarah pada spesifikasi jet tempur modern yang digunakan beberapa negara dalam menjaga keamanan kawasan.

Halaman Selanjutnya
img_title